Sabtu, 13 Oktober 2012

Jangan Mimpi Tinggi-tinggi, Nanti Kalau Jatuh, Stress Lu!!!

Ehmm… gimana pembaca? Pernah
mendengar kata-kata seperti judul di atas
ini? “Jangan Mimpi Tinggi-tinggi, Nanti Kalau
Jatuh, Stress Lu!”
“Jangan Mimpi Tinggi-tinggi, nanti kalau
jatuh, sakit!”
“Udahlah Jangan mimpi muluk-muluk,
hidup itu real aja, gak usah neko-neko”! “Jangan mimpi tinggi, jalani hidup apa
adanya, seperti air mengalir saja”. Ya, ada banyak kalimat-kalimat kata-kata
mutiara (sesat) seperti ini. hehe… Saya sering dapat kata-kata mutiara sesat
yang bunyinya seperti di atas ini, dan
biasanya kata-kata mutiara sesat itu
berasal dari mulut orang yang hidupnya
biasa-biasa saja, orang-orang trauma,
orang-orang gagal yang tidak mau menerima kegagalannya dan akhirnya
tanpa sadar mau mengajak orang lain
gagal. Ya, begitulah kehidupan. Selalu ada
orang gagal, selalu ada orang sukses.
Pertanyaannya, Anda mau jadi Yang
Mana? Kalau anda mau jadi orang sukses, ya Anda mau dengar kata-kata yang
mana? Dari mulut orang sukses atau dari
mulut orang gagal (trauma)? Kalau
mendengarkan kata-kata mutiara sesat,
tentunya jadi sesat pula, nanti timbul lagi
aliran sesat. haha… Nah, ngomong-ngomong soal trauma,
mari kita belajar dari masa kecil kita… mau
tau? Ayo baca lanjut… Sewaktu masa kecil, ketika lahir dan mulai
bertumbuh (ehmmm…salah satu ciri
makhluk hidup), seorang bayi belajar jalan.
Ia belajar jalan, jatuh dan menangis….
Belajar jalan lagi.. Jatuh lagi, nangisnya
tambah kuat… Belajar jalan lagi, Jatuh dan kejeduk meja pula, berdarah, menangis…
Begitu kan yang terjadi semasa kecil?
Belajar jalan, dimana banyak jatuhnya
pula…lebih banyak jatuhnya daripada
jalannya… Ya GAK?? BENAR gak?
Orang tua membimbing kita untuk terus mencoba :”Ayo anakku yang manis..
Sini..Jalan ke sini, papa tunggu di sini…. Si
kecil dibimbing oleh mamanya berjalan dari
sisi satu ke sisi lain, dimana di sisi lain
papanya menunggu. Si kecil pun mencoba berjalan lagi, jatuh
lagi…tersungkur pula… Jatuh lagi,
terjengkang pula… Jalan lagi, merangkak
lagi… bangkit lagi, jalan lagi… jatuh lagi,
diangkat lagi oleh mamanya, jalan
lagi….Gedubrakkkk!!!! Jatuh, menyenggol kursi, Gubrak!!! Kursi menimpa si kecil…si
Kecil benjol-benjol… (haha..itu kan masa
kecil kita). Apa si kecil STOP? Terus
apakah Mamanya bilang :”Udah nak, gak
usah jalan lagi. Sudah-sudah, cukup sudah
penderitaanmu belajar jalan ini. Sini, mama gendong saja. MULAI hari ini, kamu gak usah lagi belajar
jalan, kasihan kamu anakku..Mukamu
yang ganteng itu, jadi benjol-benjol gara-
gara belajar jalan…” Apa seperti ini yang
diucapkan oleh Mama kita????? “Udah
nak, jangan mimpi untuk bisa jalan..?? Sperti ini???? Inikah yang diomongin pada
si kecil ketika belajar jalan????? Gak
kan??? Gak seperti itu kan yang benarnya
kan??? Si kecil terus dibimbing.. “Ayo
anakku, jalan terus ke sini…teriak papanya
sambil mengacung-acungkan mainan agar si anak berjalan mendekat kepadanya.. Si
kecil yang jatuh tadi, bangkit lagi, jalan lagi,
jalan perlahan, megal megol, terus jalan
lagi.. jalan lagi… AHAAA… akhirnya, sampailah si kecil di
rangkulan papanya..
“MMuachhhhh….. “cium papanya pada
mamanya… eh, salah… pada si kecil….
Papanya menggendong si kecil…”Kamu
hebat anakku” Papanya menggendong senang. Anaknya sudah mulai bisa
berjalan. Walau harus jatuh dan bangkit
lagi, berulang kali, puluhan kali, bahkan
ratusan kali. Dari survey, anak mengalami 300an kali
jatuh dan bangkit lagi dalam belajar jalan,
agar bisa berjalan normal. Loh???!!
Kenapa sudah menjadi besar, ketika sudah
bersekolah, tamat kuliah, lantas menjalani
kehidupan, ngomong : “jangan mimpi tinggi-tinggi, nanti kalau
jatuh, sakit!!”
Mana yang benar??? Kok tambah umur,
jadi tambah penakut??? Tambah tua, jadi
tambah “bijaksana”? (makin bisa cuma
komentar aja).. Ketika si kecil belajar jalan, terus jatuh. apakah sebagai orang tua
bilang sperti ni: “Udah anakku… Gak usah
belajar jalan lagi. Kasihan kamu, benjol-
benjol. Berdarah bibirmu kejeduk meja. Ini
semua gara-gara belajar jalan. Mulai hari
ini, kamu gak usah belajar jalan lagi, Mama akan selalu gendong kamu. Kemanapun
kamu pergi, mama kan selalu
menggendongmu. Mama sayang kamu..
Mama gak mau kamu terluka gara-gara
belajar jalan..” Duhhh…. gimana kalau banyak orang tua
bilang seperti di atas pada anaknya yang
masih belajar jalan? Bisa banyak orang
lumpuh sejak kecil…Bisa banyak orang
digendong sampai tua. Hahaha…
Nah, bagaimana dengan kehidupan? Bagaimana dengan berbisnis?
Ketika berbisnis jatuh, apa terus jadi
trauma? Ketika bisnis jatuh, lantas tidak
bangun-bangun lagi… bahaya kalau
seperti itu.. Ada banyak kelumpuhan bisnis.
Ujung-ujungnya semua orang kerja. LOHH!! Kalau semua orang kerja, lantas
kerja sama siapa? Wong, bisnisnya gak
ada, semua orang trauma berbisnis, semua
orang takut untuk memulai bisnis, semua
orang gak ada yang bangun bisnis, gara-
gara kata mutiara sesat itu.. Haha… Terus orang kerja nanti kerja dimana?
Perusahaan gak ada karena semua orang
memilih kerja… Aneh gak kalau kehidupan
seperti itu??? Aneh gak???? Ayo orang-
orang trauma bisnis…. Ayo jawab… Aneh
gak????!!! Apa masih mau terus trauma??? Emang Trauma gitu dapat duit
berapa? Dapat penghasilan berapa dari
Traumanya?? Dapat Passive Income dari
Trauma? Jangan donk menebarkan virus
trauma sama lingkungan. Ngomong-
ngomong, virus trauma itu sejenis virus apa ya? Virus A1? Kayak virus flu burung?
Kayak virus flu babi? Udahlah, stop
traumanya… Mau tau caranya stop
Trauma? (sebetulnya sih, stelah baca
artikel saya ini, harusnya sudah stop
trauma, kan sudah tersinggung, haha…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar